Dalam waktu kurang dari 48 jam, Presiden Amerika Serikat,
Barack Hussein Obama,
dipaksa untuk menanggapi panggilan dari dua pemimpin kunci Eropa, yang
menjadi sekutu Amerika, terkait adanya laporan pengungkapan dari program
mata-mata Washington terhadap warga di Jerman dan Prancis.
Dalam sebuah percakapan telepon dengan Kanselir Jerman,
Angela Merkel,
pada Rabu malam, Gedung Putih baru-baru ini berjanji bahwa Merkel
bukanlah target dari program pengawasan Badan Keamanan Nasional (NSA),
seperti dilansir stasiun televisi Press TV, Kamis (24/10), mengutip
laporan dari surat kabar the New York Times.
Dalam pengungkapan dokumen-dokumen terbaru itu, mantan kontraktor NSA
kini buron, Edward Snowden, menyatakan Washington telah memata-matai
percakapan telepon Merkel. Pengungkapan itu membuat pemimpin negara
dengan ekonomi paling kuat di Eropa itu memanggil mitranya Amerika untuk
mencari kepastian bahwa telepon selulernya tidak menjadi target
intelijen Negeri Paman Sam itu.
"Presiden
Obama
meyakinkan bahwa Amerika tidak mengawasi dan tidak akan memonitor alat
komunikasi kanselir. Kami menghargai kerjasama Jerman selama ini
terutama untuk keamanan internasional," ujar Juru Bicara Gedung Putih,
Jay Carney, seperti dikutip stasiun televisi CBS News.
Ini menjadi pengungkapan kedua terkait program mata-mata Amerika yang terjadi hanya dalam waktu kurang dari dua hari.
Pada Senin kemarin koran Prancis, Le Monde, mengungkapkan bahwa telah
terjadi pengawasan besar-besaran yang dilakukan Amerika terhadap warga
Prancis, seperti halnya terhadap para diplomat Negeri Menara Eiffel itu.
Berita itu langsung memicu kemarahan dari Presiden Prancis Francois
Hollande yang menyatakan bahwa hal itu sebagai perbuatan ekstrem.
Laporan dari dokumen-dokumen dibocorkan oleh Edward Snowden
memperlihatkan bahwa lebih dari 70 juta catatan panggilan telepon di
Prancis telah direkam dalam periode 30 hari antara 10 Desember 2010
sampai 8 Januari 2013.
Pengamat mengatakan kerusakan hubungan Amerika dengan negara-negara
sekutu Eropanya terus memuncak sebagaimana pengungkapan terkait program
mata-mata Negeri Adikuasa itu kemungkinan masih akan terus berlanjut.
Bulan lalu, media Brasil melaporkan bahwa NSA juga telah menyadap
surat elektronik dari Presiden Brasil Dilma Rousseff. Bahkan dia
akhirnya menunda perjalanan ke Negara Adidaya itu lantaran kasus ini.
Baru-baru ini, majalah Jerman Der Spiegel, yang sebelumnya mengatakan
bahwa pihaknya memiliki tumpukan dokumen Snowden, menyatakan bahwa NSA
juga telah memperoleh akses ke dalam komunikasi baik yang menuju atau
dari Presiden Meksiko Felipe Calderon ketika dia masih berkuasa.
Kasus ini merupakan beberapa kasus terkait program mata-mata Amerika
yang telah terungkap sejak Juni lalu, ketika pengungkapan dokumen
rahasia yang pertama dari Snowden muncul ke publik.
Snowden, yang menjadi buronan nomor satu di Amerika atas tuduhan
mata-mata, telah diberikan suaka sementara di Rusia pada 1 Agustus lalu.
Sumber : www.merdeka.com